Dulu Pemulung Kini Punya 4 Panti Dhuafa dan Hidupi Ratusan Lansia, Sebagian Para Donaturnya Adalah TKW di Hongkong

  • Whatsapp

Panti Dhuafa Lansia Ponorogo didirikan oleh Rama Phillips. Rama merupakan pria berusia 35 tahun. Sebelum mendirikan panti lansia tersebut, ia merupakan mantan pemulung sejak tahun 2004 sampai 2009.

Kondisi Rama berubah setelah ia merintis bisnis batu akik pada 2015 silam. Rama mengembangkan bisnis batu akiknya hingga mendapat omzet hingga Rp486.000.000.

Memiliki keuntungan dari hasil penjualan batu akik, Rama mulai memutuskan untuk membeli tanah, rumah, dan perlengkapan lainnya yang nantinya dibangun untuk menampung para lansia.

Bacaan Lainnya

Surut dalam bisnis batu akiknya, Rama tetap memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan para lansia yang dirawatnya. Ia kemudian membanting stir dengan menjual berbagai macam plastik.

Sampai pada titik ketika ia tidak punya biaya untuk merawat para lansia, para dermawan datang untuk memberikan uluran tangan berupa bantuan dana, salah satunya berasal dari para Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di Hongkong.

Bagaimana awal mulanya Rama bisa menampung para lansia di panti yang didirikannya itu? Hal tersebut bermula ketika Rama tengah menjalankan bisnis batu akik miliknya lalu ia bertemu dengan seorang kakek yang masih bekerja keras menjadi kuli panggul.

Rama lalu bertanya mengenai alasan mengapa kakek tersebut masih harus bekerja keras. Kakek tersebut mengungkapkan bahwa ia merupakan eks transmigran, istrinya meninggal dan tidak punya anak. Kakek tersebut diusir dari rumah sehingga ia harus bekerja keras serta tinggal di sebuah gubug.

Merasa iba, Rama memutuskan untuk menampung kakek tersebut sebab ia teringat ketika dirinya sempat menjadi pemulung. Keluarga Rama pun tetap mendukung dan menampungnya. Hingga kini, di tahun 2020, Rama merawat ratusan lansia, gelandangan, dan ODGJ.

Pada awalnya para lansia yang ditampung tembus hingga 100-an orang. 90 persen dari para lansia yang tertampung di panti ditemukan di jalan, sedangkan 10 persen di antaranya merupakan lansia yang diantar oleh keluarganya ke Panti Dhuafa Ponorogo.

Semakin hari semakin banyak penghuni menempati panti dhuafa lansia yang ada di Desa Turi Jetis, itu yang membuat panti tersebut juga membutuhkan sarana dan prasarana penunjang tambahan.

Diantaranya yang saat ini sangat dibutuhkan adalah mobil ambulance untuk mengantar penghuni panti, jika sewaktu-waktu butuh rujukan ke rumah sakit.

Pengurus Panti Dhuafa Lansia Turi Jetis, Rama philips menjelaskan, hingga saat inI penghuni panti lansia dhuafa jumlahnya mencapai 87 orang, sedangkan selama ini untuk melayani penghuni panti yang membutuhkan rujukan, pihaknya hanya mengandalkan ambulance PMI dan mobil pribadi.

Dia mengatakan, bahkan dua bulan lalu ada salah satu penghuni panti yang meninggal dunia, dan jenazahnya harus menunggu hampir 24 jam sebelum diantarkan ke desa asal karena tidak tersedianya ambulance yang bisa digunakan.



Pos terkait