TKI Hongkong Rela Masak Babi Demi Biayai Anaknya Nyantri, Begini Kata Guru Anaknya Terkait Pekerjaan Ibunya

  • Whatsapp

Sebagai TKI di Hongkong, Bu Inah harus masakin majikannya babi padahal uangnya untuk biaya mondokin anaknya yang santri.

Bu Inah gelisah, berkali-kali membenarkan letak duduknya. Seperti takut ada yang salah. Matanya selalu memandang lantai ke bawah.

“Wah, tumben Bu Inah balik ke Indonesia. Udah boyong dari Hongkong ini?” tanya Gus Mut santai.

Read More

“Anu, Gus. Kebetulan ini dibolehin ambil cuti agak lama, mau nengok anak saya yang mondok di sini,” kata Bu Inah.

Karena santri Gus Mut tak terlalu banyak, Gus Mut masih hafal nama-nama orang tua santri yang mondok di tempatnya. Tak cuma hafal, Gus Mut pun selalu menjalin hubungan baik dengan para orang tua santri.

“Oh, lah tadi ini udah ketemu sama anaknya?” tanya Gus Mut.

“Udah tadi, Gus,”

“Berarti posisi saat ini Bu Inah masih kerja di Hongkong ya?” tanya Gus Mut.

“Iya, Gus. Masih jadi PRT. Bahasa kerennya asisten rumah tangga lah,” kata Bu Inah sedikit senyum.

Tak berapa lama, datang Fanshuri sambil membawa papan catur. Sore itu mereka memang mau janjian main catur, namun melihat ada tamu di kediaman Gus Mut, Fanshuri sejenak berhenti di depan teras.

“Sini, Fan. Masuk aja. Duduk sini. Nggak apa-apa,” kata Gus Mut.

Fanshuri lalu ikut duduk ke dalam teras.

“Gus, saya mau tanya sesuatu. Tapi Gus Mut jangan marah ya?” tanya Bu Inah tiba-tiba, sesaat setelah Fanshuri menaruh pantat di kursi teras.

Gus Mut agak bingung dengan ultimatum tersebut. “Memang kenapa, Bu?” tanya Gus Mut.

“Jadi gini Gus, saya ini kerja di Hongkong. Kerjaan saya itu tiap hari masakin buat majikan saya, kadang antar anak majikan saya,” kata Bu Inah.

Gus Mut dan Fanshuri menyimak.

“Ya bagus dong, Bu,” kata Gus Mut.

“Tapi masalahnya majikan saya ini non-muslim,” kata Bu Inah.

“Nggak apa-apa dong,” kata Gus Mut lagi.

“Masalahnya, kadang majikan saya minta saya masak babi, goreng babi. Ya nggak setiap hari juga sih mereka makan babi, Gus. Kadang dua minggu sekali, tiga minggu sekali. Lalu kalau hari Minggu saya sering anterin anaknya ke gereja,” kata Bu Inah.

Gus Mut terdiam.

“Lebih masalah lagi, anak saya itu mondok di tempat Gus Mut. Jadi uang yang saya pakai untuk bayar mondok, buat uang saku anak, kebutuhan keluarga sehari-hari itu pakai uang kayak gitu, Gus. Kira-kira hukumnya kayak gitu gimana ya, Gus?”

Gus Mut terdiam sejenak.

“Bapak kerja apa, Bu?” tanya Gus Mut.

“Suami saya udah meninggal lama banget, Gus,” kata Bu Inah.

“Oh, maaf,” kata Gus Mut.

“Nggak apa-apa, Gus. Jadi gimana?” tanya Bu Inah lagi.

“Kalau dari problem kayak gitu saya nggak bisa menghukumi, Bu,” kata Gus Mut.

“Lah kok nggak bisa menghukumi, Gus?” tanya Bu Inah.

“Soalnya kan dhorurot. Hal-hal dhoruot itu sudah beda posisi hukumnya. Kecuali Bu Inah punya pilihan kerjaan lain selain itu. Udah dicoba, Bu?” tanya Gus Mut.

“Saya udah coba minta agensinya untuk pindah majikan sebenarnya. Dua tahun ini belum ada perkembangan, Gus. Jadi ya saya bertahan aja dulu ketimbang keluarga saya nggak makan dan anak-anak nggak bisa pada mondok sama sekolah,” kata Bu Inah.

“Ya udah, dijalani saja dulu sampai ada jalan keluar, Bu. Bu Inah doa sama Gusti Allah, saya juga doain dari sini, semoga dicariin jalan keluar,” kata Gus Mut.

Bu Inah tampak lega mendengar perkataan Gus Mut. Tak berapa lama kemudian undur diri. Pamit.

Begitu Bu Inah hilang dari pandangan Gus Mut, Fanshuri langsung nyerocos.

“Lah, bukannya itu hukumnya pasti haram ya, Gus? Apapun hasil dari keuntungan dari barang yang haram itu hasilnya juga haram kan? Bahkan soal babi ini jelas banget dalilnya kalau hasil keuntungannya dari segala aspek itu haram,” kata Fanshuri.

Gus Mut mengangguk.

“Lalu kenapa Gus Mut nggak bilang haram aja gitu?” tanya Fanshuri.

“Terus siapa yang mau biayai kehidupan keluarganya Bu Inah? Kamu mau, Fan?” tanya Gus Mut.

“Ya saya nggak ada duit. Saya kan bukan orang kaya,” kata Fanshuri.

“Ya sama kalau gitu. Kita sama-sama nggak bisa nyelesain masalahnya kok malah jadi yang ribut?” kata Gus Mut.

“Tapi kan kalau haram ya haram aja. Ngapain malah jadi halal?” kata Fanshuri.

“Siapa yang bilang jadi halal, Fan? Nggak ada yang bilang kayak gitu. Tadi kan saya bilang dhorurot. Bu Inah itu sebenarnya juga sama kayak kamu—mungkin, sudah tahu hukumnya, tapi situasi hidupnya yang sulit bikin dia ragu,” kata Gus Mut.

“Lagian, seharusnya Bu Inah nggak perlu mikir duniawi banget gitu. Cabut aja dari Hongkong, kerja aja di sini,” kata Fanshuri.

“Fan, problem-nya masyarakat itu nggak hitam-putih kayak di kitab-kitab yang udah kamu baca. Ada banyak aspeknya. Sosial, psikologi, wah macam-macam. Dan itu terbentuk bukan cuma karena hasil baca kitab-kitab, tapi juga interaksi. Semakin sering berinteraksi maka bakal makin luwes. Sedangkan makin jarang interaksi dengan masyarakat ya jadinya kayak kamu gitu. Flat. Kaku.”

“Ya nggak apa-apa dong, yang penting kan benar. Perkara orang itu nggak mau percaya ya urusan dia sama Gusti Allah,” kata Fanshuri.

“Fan, masyarakat kayak Bu Inah itu percaya sama agama karena dianggap mampu memecahkan problematika kehidupannya. Lah kalau agama ini disampaikan malah jadi problem baru, itu justru makin bahaya lagi. Bisa-bisa Bu Inah malah beralih ke yang lain, memangnya kamu mau tanggung jawab?” tanya Gus Mut.

Fanshuri cuma terdiam, lalu cengegesan.

________________
*kisah ini disadur dari cerita gus baha yang ditulis oleh pojok.id

Related posts



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *